WAKTU (Saat 2020 ke 2021)

Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Pergantian tahun sebagai satu kebiasaan manusia untuk mengingat waktu tahun (termasuk bulan, tanggal, jam, menit, detik) bagi suatu peristiwa, kejadian, kegiatan, dan perbuatan yang kita dan/atau orang lain lakukan. Mengingat hal-hal yang menyenangkan dan hal-hal yang menyedihkan.

Hal-hal tersebut ada yang menjadikannya sebagai acuan rencana di tahun berikutnya agar kegagalan/musibah tahun lalu dapat dihindari/diatasi atau untuk mencapai kesuksesan kehidupan agar menjadi lebih baik (sukses) menurut persepsi atau kesepakatan tertulis ataupun tidak tertulis (tradisi).

Namun dalam pandangan Islam terutama menurut petunjuk Al Qur’an atau dengan penjelasan Hadist yang menyertainya. Beberapa istilah terkait waktu yaitu: Dahr, Ajal, Waqt.

Dahr [QS.76:1, 45;24]: rentang awal alam diciptakan sampai dengan berakhir (kiamat). Semua kejadian sudah tercatat didalamnya termasuk taqdir baik dan buruk perbuatan manusia, tercatat dalam kitab yang nyata (Lauh mahfuzh)[QS. 10:61]. Didalam Dahr terdapat Ajal dan Waqt bagi setiap manusia.

Ajal [QS. 10:49]: suatu rentang awal sampai batas suatu perjanjian. Contoh perjanjian kerja nabi Musa AS dengan nabi Syuaib AS. Begitu pula kehidupan manusia dari alam rahim, alam kehidupan didunia sampai akhir hayat. Didalam Ajal tersedia waqt untuk setiap manusia terutama bagi muslim.

Waqt [QS. 4:103]: batas waktu (waqt) mulai dan berakhirnya yang telah ditentukan untuk melaksanakan ibadah kepada Allah SWT. Seperti waktu sholat(wajib/sunah) , puasa (wajib/sunah), zakat, haji atau umroh.

Terkait waktu Dahr, berakhir pada saat kiamat, maka manusia akan dibangkitkan kembali untuk memasuki alam akhirat yang kekal kedalam surga atau neraka melalui beberapa tahap penilaian keimanan dan ketakwaan seberapa berat timbangan kebaikannya (melalui amal-amal sholeh yang diusahakan pada masa Ajal sampai batas Dahr, amal seseorang dapat terus mengalir sampai kiamat terutama amal jariah, ilmu yang bermanfaat, serta do’a keturunan yang sholeh)

Terkait waqt, Allah bersumpah terkait waktu sebagai penekanan kepastian perintahnya seperti dalam waktu Fajar [QS. 89:1], subuh [QS. 81:18], dhuha [QS.93:1-2], Asar [QS. 103:1-3], terkait bintang-bintang [QS. 81:15-17] yang beredar dan terbenam, demi malam yang hampir meninggalkan gelapnya. Dan perintah sholat  [QS. 17:78]: dzuhur (duluk awal), Asar (duluk akhir), maghrib (ghasaqil lail awal), isya (ghasaqil lail akhir), subuh (fajar/qur’anal fajri), serta tahajud [QS. 17:79]. Selanjutnya, perubahan penampakan bulan secara bertahap tiap hari dari awal pembentukan sabit (ufuk), bentuk sabit, bentuk purnama (3 hari puasa sunah tengah bulan hijriah), kembali ke bentuk sabit, dan akhir bentuk sabit adalah sebagai waktu untuk manusia dan penentuan waktu Haji [QS. 2:189].

Diiperintahkan agar jangan membuang-buang waktu percuma sehingga mendapatkan kerugian diakhirat, kecuali orang yang beriman dan beramal sholeh, saling mengingat yang Haq (petunjuk Al Qur’an dan Al Hadist), dan saling mengingat tentang kesabaran (dalam menghadapi sikap/ulah/perlakuan orang munafik, fasik, dan kafir serta dalam menghadapi musibah) [QS. 103:1-3]. Memanfaatkan kesempatan dalam waqt (AlSuyuti 1971:77) terkait 5 perkara yang harus dijaga yaitu kesempatan saat hidup sebelum datang kematian, keadaan sehat sebelum datang sakit, waktu luang sebelum datang kesibukan, masa muda sebelum tua (lemah), saat kaya sebelum miskin.

Agar selalu memperhatikan penciptaan alam dan prosesnya untuk selalu mengingat tanda-tanda kebesaran Allah bagi orang yang beriman [QS. 6:99]. Menjaga ketakwaan melalui petunjuk [QS. 2:1-5] dan memperhatikan perbuatan untuk persiapan hari esok (akhirat) [QS. 59:18] dan bersegera memanfaatkan waqt untuk mendapatkan ampunan dan surga yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa [QS. 3:133-134].

Ikuti petunjuk dan hindari atau batasi keinginan secara berlebihan akan kecintaan pada kehidupan dunia yang menggoda hanya sementara (fana) sebagai kesenangan yang menipu berupa permainan dan senda gurau belaka. Padahal kehidupan akhirat adalah kehidupan yang sebenarnya dengan kesenangan yang kekal abadi sebagai kemenangan atas usaha menjalankan petunjuk dengan rasa syukur dan sabar.

Oleh karena itu sikap kita menghadapi pergantian tahun sama seperti pergantian bulan, minggu, hari, jam, menit, dan detik seperti hari-hari biasa. Mengingat masa lalu/sejarah sebagai muhasabah untuk memperbaiki diri dengan perbuatan baik. Dunia ini adalah ujian bagi kita dari Yang Maha Pengasih berupa Kesempatan sebelum Ajal berupa Kesenangan dan Kesempitan yang harus kita hadapi dengan rasa syukur dan sabar.

Khusus Petunjuk dan Waqt yang sudah disediakan oleh Yang Maha Pengasih, Maha Perkasa dan Maha Bijaksana untuk menjaga iman, memperbanyak amal sholeh serta mencapai dan meningkatkan ketakwaan. Maka untuk itu kita bergantung dan melalui do’a berharap hanya kepada Allah SWT melalui petunjuk jalan yang lurus dengan contoh suri tauladan dari Nabi Muhammad SAW agar mendapatkan ridho, ampunan dan surga dari Dia Yang Maha Pengampun lagi Maha penyayang.

---------------

Tulisan singkat ini terutama sebagai catatan belajar bagi penulis. Mudah-mudahan ada manfaat bagi yang membaca. Yang benar datang dari Allah SWT, Jika ada kekurangan dan kekeliruan mohon koreksi akan diperbaiki ini semata karena kebodohan penulis, Astaghfirullah al aziim.

Sumber referensi: Murniyetti, Waktu dalam perspektif Al-qur’an. Jurnal Ulunnuha Vol.6 No.1/Juni 2016; M.A. Tuasikal, Pelajaran dari ayat waktu sholat. https://rumaysho.com/9693-pelajaran-dari-ayat-waktu-shalat.html

Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh  

DR, Cilandak Barat, 01-01-2021

Komentar

Postingan populer dari blog ini